Sabtu, 27 Agustus 2011

AWAL KEHANCURAN



Jika sang Pencipta mememerintahkan untuk membalikkan semesta
Mengakhiri kehidupan pertama ini
Ia memerintahkan peniup sangkakala
Untuk kehancuran semesta
Tiupan sangkakala melepaskan segala yang mengikat
Terlepaslah segala hal yang mengikat diantara bnagian bagian semesta
Bumi bergetar dan berguncang keras
Gunung-gunung menumpahkan isi perutnya
Menjadi kapas- kapas yang berhamburan

Langit meledak dengan keras
Rusaklah seluruh aturan
Bintang-bintang pecah dan matahari gelap gulita
Hilanglah seluruh cahaya
Isi semesta kehilangan eksistensinya
Luluhlah semua komposisi langit
Peredaran isi langit berantakan
Bagaikan tembaga yang luluh sempurna
Alam menjadi kabut dan asap
Sebagaimana sebelum keberadaan bumi diciptakan sang Khalik
Sebagai awal kehancuran alam semesta

( Dipetik dari Tamasya ke Negeri Akhirat oleh Syaikh Mahmud al-Mishri )
27 Agustus 2011/ramadhan 1432

Jumat, 26 Agustus 2011

" HANYA DUSTA "



Katanya beriman kepada Allah Yang Maha Tunggal
Tidak ada Ilah selain Dia
Dia Yang Maha berkuasa tidak tertandingi
Tapi kenapa didustakan
Melarungkan sesajen di laut
Mempersembahkan ritual pesta bumi
Menyembelih hewan untuk selain Dia
Kita percaya selain Dia masih ada Ilah-ilah lain
Sungguh ternyata masih ada dusta

Katanya beriman kepada malaikat
Namun ingkar akan dua pencatat kebaikan dan keburukan
Tidak pernah malu berbuat kedzaliman dan kemaksiatan
Tidak pernah merasa takut akan pertanyaan Munkar dan Nakir
Tidak pernah malu kepada malaikat yang selalu bertasybih

Katanya beriman kepada Kitab-kitab Allah
Namun al-Qur’an tidak dijadikan pelita hati
Ayat-ayat al-Qur’an dibacakan untuk yang mati
Kitabullah hanya sebagai lantunan musabaqah

Katanya beriman kepada para Rasul
Muhammad Rasul-Nya terakhir
Diicintai sepenuh hati
Tapi sunnahnya diabaikan dan diingkari
Bid’ah dijadikan kebanggaan dibela sepenuh hati
Teladan Rasul diterlantarkan dan ditinggalkan

Katanya beriman kepada hari akhir
Percaya akan hari perhitungan
Percaya adanya hidup abadi sesudah kematian
Percaya akan keberadaan surga dan neraka
Namun selalu bergaul dengan perbuatan maksiat
Larangan dijadikan sahabat
Perintah wajib dilupakan

Katanya beriman kepada takdir
Kehendak-Nya pasti terjadi
Keputusan-Nya pasti terealisasi
Tapi ketetapan-Nya diingkari
Rezeki dari-Nya tidak disyukuri
Semuanya hanyalah dusta belaka

Minggu terakhir Ramadhan 1432 H
( by: musni japrie )

Kamis, 25 Agustus 2011

MENGIKUTI JEJAK RASUL



BY : Musni Japrie


Terpahat di dinding kalbu setiap insan mu’min
Ungkapan kata sang pemberi teladan
Kuwariskan dua pusaka tak ternilai
Kitabullah dan as-sunnah
Tali pengikat agar kalian tidak salah memilih
Jalan menuju akhlakul karimah
Apabila kalian saling terpecah
Kembalilah kepadanya
Kitabullah kalamullah
As-sunnah jalan hidupnya Rasul

Di padang arafah
Di haji perpisahan
Rasul pilihan pemimpin umat
Dibisiki pesan : ‘Telah sempurna agama ini “
Lengkaplah sudah syari’at
Jauhkan perkataan ulama yang menyalahi kitabullah dan as-sunnah
Jadilah insan yang berpegang teguh pada jejak Rasulullah

Empat belas abad silam Rasul pilihan berpesan
janganlah membuat yang baru dalam agama
Hal-hal yang baru dalam agama tertolak dan sesat
Sesat itu tempatnya di neraka
Pegang teguhlah sunnahnya Rasul dan sunnahnya para sahabat
Gigit dengan geraham kalian.

Berjalanlah di jejak yang Rasul gariskan
Warisan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in
Diriwayatkan ulama salafus shalihin
Sunyi dari bid’ah

Jalan Jakarta, BB-12 Romadhan 1432

CINTAKU ENGKAU SEGALA-GALA NYA



By : Musni Japrie

Cintaku Engkaulah segala-galanya
Aku reguk habis nikmat tak terhitung dari-Mu
Engkau hamparkan apa yang aku minta
Engkau berikan kehangatan cinta dengan siraman mentari pagi
Engkau buai aku dengan selimut malam dalam tidurku
Engkau lukis keindahan rembang petang dengan untaian pelangi
Tetapi semuanya terabaikan dariku
Lirikan rindu dunia dan lambaian tangan-tangan nafsu berahi
Kemilau gemerlap harta dan nyanyian bisikan syaitan
Membuat aku tergoda dan jatuh terlena dibuai mimpi fatomargana
Aku berlari meninggalkan cinta-Mu
Mengejar cinta dengan janji-janji kosong
Melalaikan aku dari cinta-Mu
Aku telah berbagi cinta dengan selain Engkau

Wahai yang Maha Segala-galanya
Engkau tak pernah tinggalkan aku dari cinta-Mu
Engkau bisikkan kembali rindu-Mu
Terbangun aku dari tidur dan mimpi yang melalaikan
Wahai yang mempunyai rindu
Hidupkan kembali lentera hati yang telah memadam
Rangkul aku kembali dalam hariban-Mu
Bangkitkan gairahku untuk bercinta dengan-Mu
Gelitiklah kalbuku dengan rindu kepada-Mu
Dalam fajar, siang, rembang petang, temaram senja dan gelapnya malam
Utuhkan cintaku hanya untuk-Mu
Tolonglah aku untuk tidak lalai dari-Mu wahai yang kucinta.

Tepian Mahakam, media Agustus 2011

"DUHAI ALLAH ..... "



Mungkin aku memang harus mati dalam rindu yahng tak pernah terungkapkan...
Tapi aku hanya ingin mati dalam perasaan cinta ygn terdalam kepada-Mu...
Jangan biarkan aku sedetikpun berpaling dari-MU...
Karena aku akan mati dalam penyesalan yang teramat sangat...
Wahai Pembolak-balik Hati...
Jika memang hati ini milik-Mu sepenuhnya...
Aku mohon dengan sangat...
Isilah ruang-ruang yang hampa dengan segala kekaguman dan penghambaaanku pada-Mu...
Dan ketika aku jatuh cinta...
Pilihkan aku lelaki teristimewa yang membuatku semakin rindu pada-MU...
Yang membuatku semakin sering memuji keagungan-Mu...
Karena aku mencintainya...
Hanya karena-MU...
Duhai Robbi penguasa hati...
Percayalah...
kau menempati hampir seluruh ruang sukmaku...
Hanya ada secuil ruang yang kubiarkan kosong...
Itupun singgasana bagi pria pilihan-Mu...
Allah Robbi..
Sang Penyemai benih-benih cinta...
Ketika aku jatuh cinta...
Tanamlah ruangan tadi dengan bibit terbaik yang pernah Engkau semaikan...
Agar tumbuh cinta abadi yang sepenuhnya menuju pada cinta kami untuk-Mu...
Hindarkanlah aku dari kejamnya cinta dan tersiksanya merindu kecuali pada-Mu...
Duhai Allah...
Ketika aku kalah..
dan ketika aku patah...
Balutlah hatiku yang terbelah...
Juga terpisah-pisah...
Karena aku ingin mencintai-Mu sepenuhnya...
Baik saat aku mencinta...
Ataupun saat aku kalah...

" Sadarlah Engkau Wahai Diri "



By : Musni Japrie

Wahai diri…….
Tahukah engkau bahwa sejak awal bagimu telah ditetapkan segalanya
Berapa lama engkau berjalan diatas hamparan bumi
Berapa lama engkau bernaung di bawah langit
Semuanya telah dituliskan, engkau hanya menjalaninya

Tahukah engkau wahai diri
Hidupmu diantara dua tangis
Tangis saat engkau melihat dunia
Dan tangis saudaramu ketika engkau menuju liang lahat
Apa yang engkau telah lakukan diantara dua tangis itu ?
Apakah engkau pernah menangisi dirimu sendiri ?
Tahukah engkau bahwa perjalanmu diantara dua tangis itu cepat berlalu
Sudahkah kau berbekal untuk perjalanan panjang ?
Atau engkau lupa segalanya karena terpukau gemerlap dunia
Engkau terlalaikan oleh buaian nafsu dan syahwat

Wahai diri…..
Tangisilah dirimu sebelum engkau akan menangis berkepanjangan nanti
Sanggupkah engkau menahan siksa dan derita tiada henti
Jejak perjalananmu dicatat tak henti oleh dua malaikat
Rekaman yang kelak tidak dapat engkau pungkiri
Engkau akan mendapatkan ganjaran walaupun hanya sebiji zarah
Engkau sendiri yang memilih diantara dua pilihan
Melihat wajah Allah yang engkau rindukan
Atau engkau lebih suka derita dalam panasnya neraka
Sadarlah engkau wahai diri

" Ku ingat Engkau Cintaku "


K a r y a : Musni Japrie

Dikeheningan ujung malam sepi
Kutinggalkan ranjang malam yang penuh gairah
Kubasuh jiwa dengan air sejuk menyegarkan
Aku sambut Kekasih yang turun kelangit dunia
Sujud pasrah dalam tahajud aku ingat Engkau
Aku menyebut nama-Mu cintaku
Ketika fajar menguning dikaki langit timur, aku bersujud dalam sholat subuh hanya untuk mengingat –Mu
Ketika embun pagi menggantung di ranting pepohonan dan ketika matahari sepenggalah tiada yang ku ingat selain Engkau cintaku
Aku bersujud dalam diwaktu dhuha
Kusebut lagi nama-Mu dalam zhuhur ketika matahari tergelincir,karena aku cinta Engkau cintaku.
Ketika bayang-bayang telah memanjang
Matahari condong kebarat
Aku basuh mukaku untuk bersujud dalam ashar
Ketika senja temaram tiba, warna langit merah tembaga
Suara azan telah menggema
Kuhamparkan sujud dalam waktu magrib untuk mengingat-Mu semata wahai cinta-ku
Gelap malam menghapus cahaya senja
Bintang dilangit juardi berkelip
Kupasrahkan diriku dalam bersujud di waktu isya
Tiada waktu tanpa mengingat-Mu cintaku
Tiada waktu tanpa menyebut nama-Mu
Tanpa henti mengharap ridho-Mu
Engkaulah segalanya bagiku
Engkaulah yang Maha Mendengar pintaku
Tolonglah aku wahai Cintaku untuk menggapai cinta-Mu.

Ba’da ashar, awal romadhan 1432 h