Kamis, 21 Februari 2013

LARANGAN MENGIKUTI KEPERCAYAAN WARISAN NENEK MOYANG



Gambar : Ilustrasi

Di tengah-tengah masyarakat Muslim di negeri ini, masih banyak terdapat orang-orang yang menjadikan kepercayaan warisan nenek moyang yang mereka namakan sebagai tradisi adat dan budaya yang perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai budaya bangsa.
Mempertahankan dan melestarikan kepercayaan nenek moyang dan leluhur yang hidup di abad-abad yang lampau  yang diwarisi secara turun temurun tersebut sepertinya sudah menjadi kebutuhan untuk dilakukan dalam kepentingan dan sarana meminta perlindungan dan pertolongan oleh sebagian kalangan kaum muslimin sebagaimana yang dulu dilakukan orang-orang jahiliyah yang aninisme.
Mengingat bahwa mereka-mereka yang berpegang teguh kepada tradisi adat istiadat dan budaya berupa kepercayaan kepada sesuatu selain Allah tersebut sebagian besar adalah  mereka-mereka yang telah mengikrarkan ucapan Laa Ilaaha Illallaah , maka muncullah pertanyaan bagaimanakah kedudukan aqidah Islam yang disandang mereka.?
Mereka-mereka yang melazimkan melakukan ritual-ritual tradisi adat istiadat dan budaya warisan leluhur  yang sebenarnya tiada lain sebuah bentuk kepercayaan kepada selain Allah secara turun temurun terbukti telah menjadikanya sebagai bagian dari kehidupan keseharian dan bahkan sudah terakumulasi dalam kehidupan keagamaan mereka. Karena sebagaimana yang nampak secara kasat mata bahwa selain melakukan berbagai ibadah yang disyari’atkan dalam Islam, ternyata juga mereka tidak pernah absen melakukan ritual-ritual yang disebut sebagai tradisi adat dan budaya warisan leluhur
Dalam ulasan berikut ini akan dikupas secara sepintas bagaimana ulah dari kalangan sebagian umat islam yang menganggap bahwa ritual-ritual yang ditiru dari  para leluhur terdahulu layaknya bagian dari agama ditinjau dari kacamata aqidah Islam. 

Keyakinan/Kepercayaan  Para Leluhur Yang Diwariskan Turun Temurun Dari Generasi ke Generasi
Sesungguhnya banyak sekali ragam tradisi adat istiadat dan budaya yang diwarisi dari leluhur oleh berbagai ragam suku yang ada di negeri ini yang berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan adanya sesuatu kekuatan ghaib yang mengatur alam semesta ini
Sebagaimana diketahui berdasarkan catatan sejarah bahwa   para leluhur yang hidup di zaman  lampau ,hidup dalam kegelapan jahiliyah yang tidak mengenal agama tauhid, tetapi mereka mempunyai kepercayaan bahwa benda-benda di alam yang ada disekitar mereka itu mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kehidupan mereka. Mereka mempercayai bahwa benda-benda tersebut dapat memberikan manfaat dan juga dapat memberikan kemudharatan sehingga perlu ditakuti dan disembah. Zaman dimana para leluhur tersebut dikenal mempunyi kepercayaan yang  dikenal dengan animisme dan dinamisme yang samasekali tidak mengenal tauhid.
Berikutnya dengan masuknya Hindu dan Budha kepercayaan yang selama itu dianut bercampur pula dengan kepercayaan Hindu dan Budha yang sebenarnya tidak terlalu jauh perbedaannya. Mereka-mereka tersebut melakukan penyembahan-penyembahan  kepada para dewa-dewa, jin-jin, gunung, bebatuan, pepohonan dan apa saja yang sebenarnya termasuk makhluk yang diciptakan oleh Allah Yang Maha Pencipta. Mereka-mereka tersebut mencintai dan takut kepada apa yang disembahnya
Kepercayaan para leluhur dan nenek moyang diabat-abad lampau tersebut tidak saja terbatas kepada ruang lingkup penyembahan kepada makhluk selain Allah , tetapi sebenarnya lebih luas lagi yaitu kepercayaan kepada adanya roh-roh orang-orang sudah mati yang dapat dimintai pertolongan. Mereka juga sangat mempercayai kepada dukun-dukun dan tukang sihir, mempercayai keampuhan jimat-jimat, mempercayai adanya kesialan, mempercayai bahwa benda-benda mati mempunyai roh yang dapat mendatangkan kemudharatan dan kebaikan, melakukan penyembelihan hewan sebagai korban dan tumbal.
Selain  melakukan penyembahan kepada zat selain Allah para leluhur yang hidup di zaman jahiliyah juga melakukan berbagai ritual-ritual adat yang terkait dengan kepercayaan mereka seperti ritual tolak bala, tepung tawar dan banyak ritual-ritual lainnya lagi yang menunjukkan keterikatan mereka dengan roh-roh dan jin serta yang dianggap dewa oleh mereka. Apa saja bagian dari kehidupan manusia sejak dari dalam kandungan hingga matinya tidak pernah lepas dari berbagai ritual yang sebenarnya bersumber dari kepercayaan yang mereka anut.
Cara penyembahan yang dilakukan oleh mereka-mereka tersebut adalah dengan memberikan sesajen serta tumbal pada tempat-tempat yang dianggap sebagai domisilinya roh-roh dan para jin serta yang mereka namakan dewa-dewa.Seperti di laut, sungai, danau, kolam, perigi atau selokan-selokan ). Ada pula yang menggantungkan sesajen di pohon-pohon besar yang diyakini ada jin atau makhluk halus  penunggu pohon-pohon tersebut. Bermacam cara dan bentuk penyajian sesajen yang dilakukan oleh masyarakat pada zaman dahulu tersebut.
Kepercayaan para leluhur atau nenek moyang yang digambarkan diatas selanjutnya terus diwarisi secara turun temurun dari generasi kegenerasi berikutnya sampai kepada generasi sekarang dengan nama tradisi adat dan budaya leluhur.
Berbagai ragam tradisi adat dan budaya dari leluhur yang terkait dengan kepercayaan dan terakumulasi dengan kepercayaan dari berbagai negeri seperti India, Cina, Eropah dan lain-lainya terus dipertahankan sepanjang zaman  sampai sekarang oleh berbagai suku , meskipun sebenarnya mereka-mereka tersebut mengaku sebagai muslim.
Berbagai perilaku yang menunjukkan bahwa terus dipertahankannya tradisi adat dan budaya berupa kepercayaan kepada selain Allah yang dilakukan oleh sebagian kalangan kaum muslimin dinegeri ini antara lain:
1.Diselenggarakannya berbagai pesta adat budaya yang bentuknya memberikan sesembahan beruapa sesajen dan tumbal seperti pada pesta laut, pesta sedekah bumi, pemberian sesajen dan tumbal pada kawah-kawah gunung, menggantungkan sesajen pada pohon-pohon besar seperti pada pohon beringin.
2. Dalam melakukan berbagai hajatan yang dilakukan oleh perorangan seperti pesta perkawinan sampai kepada hajatan yang berkenaan dengan kelahiran atau yang lainnya biasanya dilakukan pula berbagai ritual yang tidak ketinggalan menyediakan sesajen.
 3. Melakukan penyembelihan hewan ternak untuk tumbal sebagai bentuk pengorbanan kepada makhluk yang dikuatirkan akan menimbulan bencana dan malapetaka .Tumbal diberikan-biasanya pada acara-acara peresmian pembangunan proyek-proyek jembatan, bendungan, jalan, pabrik dan pembukaan tambang-tambang baru. 
3.Mendatangi kuburan-kuburan dan tempat tempat keramat dengan membawa bunga-bungaan  lalu berdoa menyampaikan berbagai hajat .
4.Bernazar di kuburan-kuburan dan tempat-tempat yang dianggap berkeramat.
5.Mendatangi dan mempercayai dukun,para normal, orang-orang pintar serta tukang sihir untuk keperluan pengobatan dan keperluan lainnya seperti memasang susuk, penglaris, guna-guna, tahan terhadap senjata , ramalan dan lain-lain  sebagainya.
6.Mempercayai jimat sebagai pelindung diri dan jimat yang memiliki kemampuan yang bertuah.
7.Mempercayai adanya hari, tanggal dan bulan yang mengandung kesialan seperti hari dan tanggal kelahiran, bulan suro.
8.Mempercayai akan datangnya kesialan dari tanda-tanda seperti suara burung, adanya ular yang melintas yang di dalam Islam disebut sebagi tathoyur.
9. Berdoa dan meminta pertolongan kepada selain Allah, yaitu kepada roh-roh dan jin-jin serta dewa-dewa.
10.Menyelenggarakan peringatan kematian seperti 3 hari, 7 hari, 25 hari 100 hari dan 1000 hari setelah kematian, dengan maksud mengirimkan bacaan-bacaan ayat-ayat al-Qur’an.
11.Melakukan ritual-ritual tolak bala dengan tepung tawar pada berbagai upacara. Melakukan ruwatan, menyiramkan air kembang yang sudah diberikan doa pada kendaraan agar terhindar dari kecelakaan
12.Menyediakan nasi tumpeng dalam berbagai ragam kegiatan seperti ulang tahun sebagai bentuk wujud rasa syukur kepada sang pencipta ( ?) pada hal nasi tumpeng bagian dari kepercayaan leluhur.
Sebenarnya banyak lagi ragam bentuk perbuatan yang di akrabi oleh sebagian orang di negeri ini yang merupakan kepercayaan warisan dari leluhur yang dianggap sebagai tradisi adat dan budaya,namun bukan pada tempatnya untuk membahas secara terperinci.

Islam Melarang Umatnya Untuk Mengikuti Kepercayaan  Nenek Moyang Karena Syirik
Dengan diutusnya  Nabi Muhammad Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk menegakkan tauhid dengan meng- Esakan Allah subhanahu wa ta’ala melalui Islam maka secara otomatis seluruh bentuk agama dan kepercayaan yang lainnya dinyatakan bathil, tentunya termasuk pula kepercayaan dari nenek moyang yang jahiliyah dimasa lampau. Karena kepercayaan mereka tersebut bertentangan dengan aqidah Islam, dimana kepercayaan masyarakat jahiliyah tersebut seluruhnya penuh dengan kesyirikan dan tidak mengenal samasekali apa yang dinamakan iman kepada Allah sebagai Yang Maha Pencipta dan yang wajib dan berhak  untuk disembah secara benar.
Dengan ditetapkannya Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, maka seluruh umat manusia wajib untuk memilih Islam sebagai agamanya dan beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta tunduk dan taat kepada ketentuan yang telah digariskan dalam syari’at sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Konsekwensi untuk itu maka seluruh umat wajib untuk meninggalkan dan membuang jauh-jauh segala bentuk kepercayaan/keyakinan yang dipegangnya, termasuk dalam hal ini kepercayaan warisan dari nenek moyang yang hidup dimasa lampau.
Namun demikian, masih banyak diantara umat manusia yang tidak mau mengindahkan apa yang diperingatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar meninggalkan kepercayaan warisan nenek moyang yang penuh dengan kesyirikan, mereka tetap memegang teguh kepercayaan tersebut dengan dalih melestarikan adat istiadatc dan budaya leluluhur. Meskipun mereka tekun melakukan amalan-amalan ibadah fardhu dan sunnah serta amalan lainnya, tetapi disatu pihak pada waktu-waktu tertentu mereka melakukan pula ritual-ritual kepercayaan yang diwarisi dari nenek moyangnya.
Berkaitan dengan sikap sebagian anak manusia yang tetap menggeluti ritual-ritual kepercayaan peninggalan jahiliyah telah disinggung dalam al-Qur’an melalui beberapa ayat.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".(QS.Al Baqarah : 170 )

Pada ayat lain Allah ta’ala berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ?.(QS.Al Maidah : 104 )

Selain itu Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman :

وَإِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً قَالُواْ وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءنَا وَاللّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاء أَتَقُولُونَ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji [532], mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?(QS.Al A’raf : 28 )
 Keterangan :
[532] Seperti: syirik, thawaf telanjang di sekeliling Ka'bah dan sebagainya.

Pada ayat lain Allah ta’ala berfirman :

فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّمَّا يَعْبُدُ هَـؤُلاء مَا يَعْبُدُونَ إِلاَّ كَمَا يَعْبُدُ آبَاؤُهُم مِّن قَبْلُ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمْ نَصِيبَهُمْ غَيْرَ مَنقُوصٍ

Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka [737]. Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikitpun.(QS.Huud : 109)
 K e t e r a n g a n :
[737] Maksudnya: jangan ragu-ragu bahwa menyembah berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan buruk akibatnya.

Firman Allah azza wa jalla :

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَـمًّى قَالُواْ إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُنَا تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَآؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ

Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?" Mereka berkata: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami, bukti yang nyata(QS.Ibrahim: 10)

Selain beberapa ayat dalam al-Qur’an yang melarang mengikuti kepercayaan warisan para nenek moyang, hadits dari Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam juga menyinggung tentang hal tersebut sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah  dalam Musnad beliau :

مسند أحمد ٢٦٠٣: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ يَعْنِي الدَّسْتُوَائِيَّ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَفْتَخِرُوا بِآبَائِكُمْ الَّذِينَ مَاتُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَمَا يُدَهْدِهُ الْجُعَلُ بِمَنْخَرَيْهِ خَيْرٌ مِنْ آبَائِكُمْ الَّذِينَ مَاتُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ
Musnad Ahmad 2603: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah menceritakan kepada kami Hisyam yakni Ad Dastuwa`i dari Ayyub dari Ikrimah darii Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian saling membanggakan leluhur kalian yang telah mati pada masa jahiliyah. Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh serangga yang menggelincirkan kotoran dengan hidungnya adalah lebih baik daripada leluhur kalian yang telah mati pada masa jahiliyah."

Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin mengutip dari  hadits  yang panjang mengenai perintah Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya dan tinggalkan apa-apan yang dikatakan oleh nenek moyangmu semua :
Dari Abu Sufyan bin Shakhr bin Harb Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Hadisnya yang panjang dalam menguraikan ceritera Raja Hercules. Hercules berkata: "Maka apakah yang diperintah olehnya?" Yang dimaksud ialah oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam Abu Sufyan berkata: "Saya lalu menjawab: "Ia berkata: "Sembahlah akan Allah yang Maha Esa, jangan menyekutukan sesuatu denganNya dan tinggalkanlah apa-apa yang dikatakan oleh nenek-moyangmu semua." Ia juga menyuruh supaya kita semua melakukan shalat, bersikap benar, menahan diri dari keharaman serta mempererat kekeluargaan." (Muttafaq 'alaih)

Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam sejak awal sudah mempredeksi adanya orang-orang yang kembali kepada agama nenek moyang mereka sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat imam Muslim rahimahullah dalam kitab shahih-nya dari Aisyah radhyallaahu’anhuma :

صحيح مسلم ٥١٧٤: حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ وَأَبُو مَعْنٍ زَيْدُ بْنُ يَزِيدَ الرَّقَاشِيُّ وَاللَّفْظُ لِأَبِي مَعْنٍ قَالَا حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللَّاتُ وَالْعُزَّى فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لَأَظُنُّ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ
{ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ }
أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا قَالَ إِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَوَفَّى كُلَّ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيَبْقَى مَنْ لَا خَيْرَ فِيهِ فَيَرْجِعُونَ إِلَى دِينِ آبَائِهِمْ
و حَدَّثَنَاه مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ وَهُوَ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

Shahih Muslim 5174: Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al Jahdari dan Abu Ma'nu Zaid bin Yazid Ar Raqasyi teks milik Abu Ma'nu, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Abdulhamid bin Ja'far dari Al Aswad bin Al Ala` dari Abu Salamah dari Aisyah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Malam dan siang itu tidak akan lenyap hingga Laata dan 'Uzza disembah." Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku mengira hal itu ketika Allah menurunkan ayat: "Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai" (At Taubah: 33) bahwa ia telah sempurna. Beliau bersabda: "Sesungguhnya hal itu akan terjadi dengan kehendak Allah, kemudian Dia akan mengirim sebuah angin yang lembut hingga Dia mewafatkan setiap orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meski hanya sebesar biji sawi, lalu yang tersisa hanyalah orang-orang yang di dalam dirinya tidak ada kebaikan sedikitpun sehingga mereka kembali kepada agama nenek moyang mereka." Telah menceritakannya kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far dengan sanad ini dengan matan serupa.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menghilangkan seruan-seruan jahiliyah sebagaimana disebutkan  dalam hadits yang diriwayatkan imam At-Tirmidzi rahimahullah dari Abu Hurairah radhyallaahu’anhu :
سنن الترمذي ٣٨٩١: حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مُوسَى بْنِ أَبِي عَلْقَمَةَ الْفَرْوِيُّ الْمَدَنِيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَذْهَبَ اللَّهُ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَهَذَا أَصَحُّ عِنْدَنَا مِنْ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ وَسَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ قَدْ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ وَيَرْوِي عَنْ أَبِيهِ أَشْيَاءَ كَثِيرَةً عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَدْ رَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ حَدِيثِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ
Sunan Tirmidzi 3891: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Musa bin Abu 'Alqamah Al Farwi Al Madani telah menceritakan kepadaku ayahku dari Hisyam bin Sa'd dari Sa'id bin Abu Sa'id dari ayahnya dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari diri kalian seruan-seruan Jahiliyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang, (yang ada hanyalah) seorang mukmin yang bertakwa atau seorang fajir (pendosa) yang celaka, semua manusia adalah anak Adam, dan Adam tercipta dari tanah." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan, dan menurut kami, hadits ini lebih shahih dari pada hadits yang pertama, sebab Sa'id Al Maqburi telah mendengar dari Abu Hurairah, dan dia juga meriwayatkan dari ayahnya banyak riwayat dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Sufyan Ats Tsauri dan yang lainnya dari Hisyam bin Sa'd dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits riwayat Abu 'Amir dari Hisyam bin Sa'd.
Melakukan ritual-ritual tradisi kepercayaan warisan turun temurun dari nenek moyang oleh mereka-mereka yang mengaku beriman sesungguhnya telah melakukan kemunafikan, karena disatu sisi mengku sebagai muslim dan melaksanakan amalan-amalan ibadah yang disyari’atkan tetapi disisi lain melakukan pula penyembahan-penyembahan kepada dewa-dewa, jin-jin, roh-roh halus dan makhluk halus lainnya, menyembah pohon-pohon, batu-batuan sebagaimana yang dulu dilakukan oleh nenek moyang di zaman jahiliyah. Sehingga dengan demikian mereka tersebut telah menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tandingan Allah.
Menyembah tandingan-tandingan selain Allah dan mencintainya sebagaimana mencintai Allah sebagaimana yang dilakukan oleh para nenek moyang di zaman jahiliyah. Dimana mereka-mereka tersebut melakukan penyembahan kepada benda-benda  yang termasuk makhluk ciptaan Allah .Perbuatan ini merupakan perbuatan syirik. Hal ini sesuai dengan yang difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu [106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”.(QS.Al Baqarah : 165 )
Keterangan :
[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَـكِن ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ مِن شَيْءٍ لِّمَّا جَاء أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS.Huud : 101)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana yang dikatakan dalam al-Qur’an :

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. An Nisa’ : 48)

Juga pelaku Syirik Akbar tempat kembalinya adalah neraka dan diharamkan baginya Surga.
Allah Ta’ala berfirman :
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Al Maidah : 72)

Sesungguhnya mereka-mereka yang mengaku sebagai muslim tetapi tetap juga melakukan ritual-ritual penyembahan kepada makhluk sebagaimana kepercayaan nenek moyang mereka, maka seluruh amalan yang dilakukannya sebagai muslim akan gugur. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ هُدَى اللّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al An’am : 88)

Kesimpulan dan Penutup
Tidaklah dapat dimungkiri bahwa masih ada diantara penduduk nusantara ini  yang  mengaku sebagai Muslim tetapi perilaku kehidupan keberagamaannya masih mereka campurkan dengan tradisi ritual kepercayaan yang diwarisi secara turun temurun dari lelulur dan nenek moyang yang hidup di zaman jahiliyah yang tidak dan belum mengenal iman dan tauhid.
Tradisi kepercayaan yang mereka sebutkan sebagai tradisi adat dan budaya warisan leluhur ,menurut mereka perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai budaya bangsa agar tidak lenyap  untuk kemudian diwariskan lagi kepada generasi mendatang. Namun mereka mereka tersebut tidak atau belum atau kurang menyadari bahwa apa yang mereka lakukan dengan melakukan ritual-ritual keagamaan dari kepercayaan nenek moyang mereka tersebut sebenarnya tiada lain adalah membuat atau menjadikan tandingan bagi Allah Yang Maha Pencipta, perbuatan tersebut adalah perbuatan menyekutukan Allah, perbuatan yang amat terlarang dan sebagai perbuatan sebesar-besar dan sejelek-jeleknya kedzaliman. Bagi mereka tempat kembalinya nanti adalah neraka jahanam dan diharamkan surga.
Syirik sebagai perbuatan menyekutukan Allah merupakan dosa yang tidak diampuni, kecuali yang melakukannya meminta ampun dan bertaubat dari perbuatannya.
Sejalan dengan itu dihimbau kepada seluruh saudara-saudara sesama muslim yang terbiasa melakukan ritual-ritual penyembahan berdasarkan kepada kepercayaan yang diwarisi dari nenek moyang dan para leluhur agar segera bertaubat dan meninggalkannya. Insya Allah taubat kalian akan  diterima, dan mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada kita . Amin ( Wallaahu ta’ala a’lam)

Sumber :
1.Al-Qur’an dan Terjemah , www.salafi-db
2.Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam, www.lidwa pusaka.com
3.Parasit Akidah, A.D.EL.Marzdedeq



  

Senin, 18 Februari 2013

BERBUAT DZALIM KEPADA ALLAH



Menurut Ensiklopedi Wikepedia Dzalim (Arab: ظلم, Dholim) adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin. Lawan kata zalim adalah adil.

Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la ma” (ظ ل م ) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga sama dengan zalim yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya ketimbang baghyu, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik.

Kalimat dzalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan..

Para ulama mendefinisikan dzalim sebagai: “Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”
Selama ini banyak diantara kaum muslimin mengartikan kata dzalim lebih banyak yang berkaitan dengan perbuatan kepada sesama makhluk baik berbuat dzalim kepada sesama manusia maupun dzalim kepada binatang. Padahal perbuatan dzalim yang dilakukan oleh manusia itu sangat luas cakupannya, antara lain bahwa manusia sebenarnya banyak yang berbuat dzalim kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Bagaimanakah sesungguhnya yang dikatakan perbuatan dzalim yang dilakukan oleh manusia ? Pada kesempatan ini sepintas kami coba untuk mengulas tentang perbuatan dzalim kepada Allah subhanahu berdasarkan hujjah yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah ( Hadits  Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam
.
Bagaimanakah Sebenarnya Perbuatan Dzalim Kepada Allah Itu ?

Sebagaimana yang dijelaskan di bagian awal, bahwa pengertian dzalim adalah  adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.

Berkaitan dengan itu manusia yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tujuannya tiada lain adalah untuk mengabdi kepada Allah dengan melakukan segala keta’atan yang diperintahkan serta meninggalkan perbuatan-perbuatan munkar sebagai perbuatan yang dilarang. Namun sebagian  manusia banyak yang enggan untuk tunduk dan menta’ati apa yang diperintahkan oleh Allah azza wa jalla. Manusia banyak yang inkar akan kodratnya sebagai makhluk yang diciptakan  oleh Allah. Kebanyakan manusia lebih suka melakukan perbuatan-perbuatan munkar yang menyalahi tuntunan syari’at yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.
Banyak diantara kaum muslimin, meskipun telah jelas adanya larangan untuk berbuat kedzaliman diatas muka bumi ini, namun mereka tidak pernah memperdulikan akan larangan tersebut. Mereka suka berbuat dzalim yaitu meletakkan sesuatu/perkara bukan pada tempatnya. Termasuk di dalamnya melakukan perbuatan keji yang terlarang yaitu menyekutukan Allah dengan makhluk yang diciptakannya. Dan perbuatan yang sedemikian merupakan perbuatan yang tidak pada tempatnya. Karena seharusnya selaku umat manusia yang diperintahkan adalah meng Esakan atau mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya yang berhak untuk disembah/dita’ati secara benar.
Karena perbuatan menyekutukan Allah yang dilakukan oleh umat manusia adalah perbuatan tidak pada tempatnya maka perbuatan tersebut termasuk dalam perbuatan yang dikatagorikan sebagai perbuatan dzalim.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa kezaliman itu ada tiga macam yaitu satu diantaranya adalah kedzaliman kepada Allah. Dan kedzaliman yang paling dzalim, yaitu berbuat syirik kepada Allah. Meskipun orang yang melakukan syirik tidaklah dikatakan mendzalimi Allah, bahkan dirinya sendirilah yang didzaliminya. Karena dia telah menghinakan dirinya kepada sesuatu yang tidak layak untuk disembah.
Dalam hal ini tercakup di dalamnya hal-hal yang bersifat kufur dan syirik dalam peribadatan terhadap Allah, karena dengan melakukan perbuatan kufur dan syirik, seseorang telah melakukan sesuatu yang tidak selayaknya bagi bagi Allah, yaitu mentauhidkannya.

Beberapa ayat al-Qur’an, membicarakan tentang perbuatan dzalim ini sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at [160]. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.( QS.Al Baqarah : 254 )
Dalam ayat lain bentuk perbuatan dzalim yang dilakukan seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah perbuatan syirik sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala :
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13 )

Dzalim memiliki beberapa makna, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an di antaranya sebagai berikut:
.Menyembah tandingan-tandingan selain Allah dan mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Perbuatan ini merupakan perbuatan syirik. Hal ini sesuai dengan yang difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu [106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”.(QS.Al Baqarah : 165 )
Keterangan :

[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَـكِن ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ مِن شَيْءٍ لِّمَّا جَاء أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS.Huud : 101)

Berfirman Allah subhana wa ta’ala

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَا

Artinya : “Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah : 72)

Selain beberapa ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang perbuatan syirik adalah kezhaliman kepada Allah, ada pula hadits yang menyebutkannya sebagaimana yang diriwayatkan oleh  imam Bukhari rahimahullah dalam kitab Sahihnya :
صحيح البخاري ٦٤٢٤: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ
{ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ }
شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ
{ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }

Shahih Bukhari 6424: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Telah mengabarkan kepada kami Waki' -lewat jalur periwayatan lain-Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Waki' dari Al A'masy dari Ibrahim dari Alqomah dari 'Abdullah radliallahu 'anhu mengatakan; tatkala turun ayat ini; 'Sesungguhnya orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman' (QS.Luqman 82), ayat ini sangat menggusarkan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga mereka bertanya; 'Siapa diantara kami yang tidak melakukan kezaliman terhadap dirinya sendiri? ' lantas Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Bukan seperti yang kalian sangka, hanyasanya yang dimaksudkan adalah seperti ucapan Luqman kepada anaknya; 'Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sebab menyekutukan Allah adalah kezhaliman yang besar" (QS.Luqman 82).

Perbuatan Syirik Disebut Sebagai Sejelek-jelek Kedzaliman

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di,berkata “Bukankah sejelek-jelek kedzaliman ketika Allah menciptakan kita dengan maksud untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya, lalu tujuan mulia ini dipalingkan ke derajat yang amat rendah, yaitu menjadi beribadah kepada makhluk yang tidak mungkin disamakan dengan Allah?! Inilah kenapa disebut sejelek-jelek perbuatan zholim.” (Taisir Al Karimir Rahman, 648).
Kenapa syirik disebut sebagai sejelek-jelek kedzaliman dikarenakan orang yang berbuat syirik telah menyamakan makhluk yang dicipta dari tanah dengan Malik, Raja semesta alam, yaitu Allah Ta’ala. Ia pun telah menyamakan sesuatu yang tidak memiliki sesuatu pun di muka bumi dengan Allah yang memiliki segala sesuatu. Makhluk yang penuh kekurangan dari segala sisi dan begitu fakir disamakan dengan Allah yang Maha Sempurna dari segala sisi dan Maha Kaya. Makhluk yang tidak dapat menciptakan dan memberi nikmat sebesar dzarrah (yang kecil semisal semut) disamakan dengan Allah yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi nikmat, yaitu nikmat agama, dunia, akhirat, hati, badan, semua nikmat ini hanya berasal dari Allah. Tidak ada pula yang dapat mencabut nikmat-nikmat tadi selain Allah. Apakah ini bukan sejelek-jelek kezholiman?! (Taisir Al Karimir Rahman, 648).

Macam-Macam Syirik Yang Disebut Sebagai Kedzaliman Kepada Allah

Para ulama sesuai dengan dalil yang ada dalam berbagai kitabnya membagi syirik atas dua macam yaitu  :
1.Syirik akbar
2.syirik ashghar

Syirik Akbar  yaitu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang hamba dalam menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebabkan hamba tersebut  keluar dari Islam dan seluruh amalan yang pernah dilakukan nya  terhapus, sehingga  karenanya diaakan  kekal tinggal di dalam neraka bersama orang-orang musyrik. Orang yang melakukan kesyirikan yang termasuk kedalam syirik akbar tidak akan diampuni dosanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala  kecuali jika dia mau bertaubat.


Sebagaimana penjelasan di atas, syirik akbar merupakan dosa yang terbesar yang tidak akan diampuni oleh Allah apabila tidak bertaubat. Allah Ta’ala berfirman :


إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa’ : 48)[1]

Juga pelaku Syirik Akbar tempat kembalinya adalah neraka dan diharamkan baginya Surga.
Allah Ta’ala berfirman :

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Al Maidah : 72)

Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa syirik akbar menggugurkan amalan-amalan adalah firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ هُدَى اللّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al An’am : 88)

Macam-Macam Syirik Akbar

Macam-macam dari Syirik Akbar ini sangat banyak sekali, tetapi bisa di kelompokkan menjadi tiga macam :
1) Syirik di dalam Al Uluhiyyah
Yaitu kalau seseorang menyakini bahwa ada tuhan selain Allah yang berhak untuk disembah (berhak mendapatkan sifat-sifat ubudiyyah). Yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam berbagai tempat dalam Kitab-Nya menyeru kepada hamba-Nya agar tidak menyembah atau beribadah kecuali hanya kepada-Nya saja. Firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah [30], padahal kamu mengetahui. (QS.Al Baqarah : 21-22 )

K e t e r a n g a n :
[30] Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.

Perintah Allah dalam ayat ini agar semua manusia[2] beribadah kepada Rabb mereka dan bentuk ibadah yang diperintahkan antara lain syahadat, shalat, zakat, shaum, haji, sujud, ruku’, thawaf, doa, tawakal, khauf (takut), raja’ (berharap), raghbah (menginginkan sesuatu), rahbah (menghindarkan dari sesuatu), khusu’, khasyah, ­isti’anah (minta tolong), isti’adzah (berlindung), istighatsah (meratap), penyembelihan, nadzar, sabar dan lain lain dari berbagai macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Di sisi lain ada kerancuan yang terdapat di kalangan umum dalam memahami ibadah. Mereka mengartikan ibadah dalam definisi yang sempit sekali seperti shalat, puasa, zakat, haji. Ada pun yang lainnya tidak dikategorikan di dalamnya.

Sungguh indah perkataan Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam mendefinisikan ibadah, beliau berkata :
“Ibadah itu ialah suatu nama yang mencakup semua perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, apakah berupa perkataan ataupun perbuatan, baik dhahir maupun yang bathin.”

Inilah pengertian ibadah yang sesungguhnya, yaitu meliputi segala perkara yang dicintai dan diridlai Allah, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan.
Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 21 di atas menyatakan sembahlah Rabb kamu, dimaksudkan untuk mendekatkan pemahaman kepada semua manusia bahwa Ar Rabb yang wajib disembah adalah yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, yang menciptakan langit dan bumi serta yang mampu menurunkan air (hujan) dari langit. Yang dengan air hujan itu dihasilkan segala jenis buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian agar kalian mengetahui semua. Maka janganlah mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah dengan menyembah dan meminta rezeki kepada selain-Nya. Apakah kalian tidak malu dan berpikir bahwa Allah yang menghidupkan dan yang memberi rezeki kemudian kalian tinggalkan untuk beribadah kepada selain-Nya?

Firman Allah Ta’ala :

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِّنَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ شَيْئًا وَلاَ يَسْتَطِيعُونَ
فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun). Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. An Nahl : 73-74)

2) Syirik Di Dalam Ar Rububiyyah

Yaitu jika seseorang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan, dan yang lainnya dari sifat-sifat ar rububiyyah. Orang-orang seperti ini keadaannya lebih sesat dan lebih jelek daripada orang-orang kafir terdahulu.
Orang-orang terdahulu beriman dengan tauhid rububiyyah namun mereka menyekutukan Allah dalam uluhiyyah. Mereka meyakini kalau Allah satu-satunya Pencipta alam semesta namun mereka masih tetap berdoa, meminta pada kuburan-kuburan seperti kuburan Latta.
Sebagaimana Allah kisahkan tentang mereka dalam firman-Nya :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS. Al Ankabut : 61)
Firman Allah Ta’ala :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).(QS. Al Ankabut : 63)

Ayat-tersebut diatas  menunjukkan kalau orang-orang musyrik terdahulu mengakui Allah-lah satu­-satunya pencipta yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang menurunkan hujan dan seterusnya. Akan tetapi mereka masih memberikan peribadatan kepada yang lainnya. Maka bagaimanakah dengan orang-orang yang tidak menyakini sama sekali kalau Allah-lah Penciptanya atau ada tuhan lain yang menciptakan, menghidupkan, dan mematikan, yang menurunkan hujaan dan seterusnya atau ada yang serupa dengan Allah dalam masalah-masalah ini. Tentu yang demikian lebih jelek lagi. Inilah yang dimaksud syirik dalam rububiyah.

3) Syirik Di Dalam Al Asma’ wa Ash Shifat
Yaitu kalau seseorang mensifatkan sebagian makhluk Allah dengan sebagian sifat-sifat Allah yang khusus bagi-Nya. Contohnya, menyakini bahwa ada makhluk Allah yang mengetahui perkara­-perkara ghaib.

Firman Allah Ta’ala :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا

AA (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
 (QS. Al Jin : 26)

Syirik Asghar (Syirik Kecil) Syirik Ashghar, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh hamba yang digolongkan ke dalam  menyekutukan Allah, namun perbuatannya tetrsebut tidaklah menyebabkan hama yang melakukannya keluar dari Islam. Tetapi pelakunya mendapat ancaman dari Allah berupa  siksa dan seandainya disiksa di neraka, ia tidak kekal di dalam neraka.
Syirik jenis ini menghapuskan (pahala) amal yang dilakukannya bercampur dengan perbuatan syirik, adapun pelakunya berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak menyiksa maka ia akan disiksa, tetapi kalau Dia berkehendak mengampuni maka diampuni dosanya.
Pengertian syirik ashghar ialah segala sesuatu yang disebut sebagai syirik dalam dalil-dalil syari’at akan tetapi tidak mencapai derajat syirik akbar, dan ia dikategorikan sebagai sarana yang mengantarkan menuju syirik akbar.
Perbuatan yang termasuk dalam syirik ashghar antara lain meliputi :

1.Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah
2.Riya’ yang ringan
3.Perkataan, “Apa saja yang Allah kehendaki dan apa pun yang kamu kehendaki” atau “Ini adalah berasal dari Allah dan darimu” atau “Aku bersama pertolongan Allah dan pertolonganmu” atau “Aku bertawakal kepada Allah dan kepadamu” dan lain sebagainya.

Pada hakekatnya sum’ah merupakan riya’ juga.

Firman Allah yang menerang­kan bahwa riya’ itu membatalkan amalan yang disertai riya’ tersebut adalah sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir [168].(QS.Al Baqrah : 264 )

 K e t e r a n g a n :

[168] Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

مسند أحمد ٢٢٥٢٣: حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ عَمْرٍو عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ الظَّفَرِيِّ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ

Musnad Ahmad 22523: Telah bercerita kepada kami Yunus telah bercerita kepada kami Laits dari Yazid bin Al Had dari 'Amru dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Riya`, Allah 'azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?" telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Abu Al 'Abbas telah bercerita kepada kami 'Abdur Rahman bin Abu Az Zinad dari 'Amru bin Abu 'Amru dari 'Ashim bin 'Umar Azh Zhafari dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian" lalu ia menyebut makna hadits.

Dan juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

 Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Allah Ta’ala berfirman : ‘Barang siapa melakukan suatu amalan kemudian ia jadikan bersama Allah sekutu dalam amalan itu maka Allah tinggalkan amalan tersebut dan sekutunya.’” (HR. Muslim)

Dalam masalah membatalkan amalan, riya’ ini terbagi menjadi dua bagian :
1. Apabila riya’ sejak awal, yaitu bahwa orang tersebut dalam melakukan amalannya sudah mempunyai niat untuk riya’. Yang seperti ini membatalkan amalan.

2. Apabila datang dengan tiba-­tiba di tengah-tengah atau di akhir amalan dan orang tersebut berusaha untuk menolak atau menghilangkan dari hatinya. Maka yang seperti ini tidak sampai membatalkan amalannya.

Dua penyakit ini (riya’ dan sum’ah) yang sangat rawan dalam hati karena sangat samar tidak terlihat oleh mata sehingga seorang Muslim harus sangat berhati-hati. Ayat Al Qurr’an dalam surat Al Baqarah 264 serta hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari shahabat Mahmud bin Labid di atas menjadi perhatian bagi kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil dengan panggilan ‘Wahai orang-­orang yang beriman’ dan Rasulullah mengkhawatirkan riya’ tersebut akan menimpa para shahabat. Hal ini menunjukkan bahwa orang Mukmin pun apabila tidak hati-hati akan terkena penyakit ini. Mudah-mudahan Al­lah selamatkan kita darinya.
Syirik Akbar dan Syirik Ashghar memiliki cabang yang sangat banyak dan memerlukan pembahasan yang sangat panjang. Tetapi yang penting untuk kita ketahui adalah sifat atau ciri-ciri dari keduanya serta bahayanya sehingga kita berhati-­hati terhadap kedua-duanya. Barangsiapa yang jatuh ke dalam salah satu di antara dua jenis syirik ini hendaknya ia segera bertaubat.
Firman Allah Ta’ala :

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS. Ali Imran : 133)

Firman Allah Ta’ala :

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Furqan : 70)

Firman Allah Ta’ala :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah : “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar : 53)

Kesimpulan/Penutup

Selama ini banyak diantara kaum muslimin mengartikan kata dzalim lebih banyak yang berkaitan dengan perbuatan kepada sesama makhluk baik berbuat dzalim kepada sesama manusia maupun dzalim kepada binatang. Padahal perbuatan dzalim yang dilakukan oleh manusia itu sangat luas cakupannya, antara lain bahwa manusia sebenarnya banyak yang berbuat dzalim kepada Allah subhanahu wa ta’ala
Manusia yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tujuannya tiada lain adalah untuk mengabdi kepada Allah dengan melakukan segala keta’atan yang diperintahkan serta meninggalkan perbuatan-perbuatan munkar sebagai perbuatan yang dilarang. Namun sebagian  manusia banyak yang enggan untuk tunduk dan menta’ati apa yang diperintahkan oleh Allah azza wa jalla. Manusia banyak yang inkar akan kodratnya sebagai makhluk yang diciptakan  oleh Allah. Kebanyakan manusia lebih suka melakukan perbuatan-perbuatan munkar yang menyalahi tuntunan syari’at yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.
Banyak diantara kaum muslimin, meskipun telah jelas adanya larangan untuk berbuat kedzaliman diatas muka bumi ini, namun mereka tidak pernah memperdulikan akan larangan tersebut. Mereka suka berbuat dzalim yaitu meletakkan sesuatu/perkara bukan pada tempatnya. Termasuk di dalamnya melakukan perbuatan keji yang terlarang yaitu menyekutukan Allah dengan makhluk yang diciptakannya. Dan perbuatan yang sedemikian merupakan perbuatan yang tidak pada tempatnya. Karena seharusnya selaku umat manusia yang diperintahkan adalah meng Esakan atau mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya yang berhak untuk disembah/dita’ati secara benar.
Karena perbuatan menyekutukan Allah yang dilakukan oleh umat manusia adalah perbuatan tidak pada tempatnya maka perbuatan tersebut termasuk dalam perbuatan yang dikatagorikan sebagai perbuatan dzalim.
( Wallaahu ta’ala ‘alam )

S u m b e r :
1.    Al-Qur’an dan Terjemah, www. Salafi-db.o4
2.    Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam, www.lidwapusaka.com
     3.Artikel Rumaysho.com
     4.Artikel Muslim.or.id
    5.Artikel Dakwah Tauhid
    6.Majalah SALAFY XXXVI/1421/2001,

Samarinda, 8 Rabiul Akhir 1434 H / 19 Pebruari 2013 M
( Musni Japrie )