Jumat, 22 Juli 2016

BERTAUHIDLAH SECARA BENAR, JANGAN DICAMPUR ADUKKAN DENGAN RITUAL TRADISI BUDAYA SYRIK WARISAN LELUHUR


Sebagaimana diketahui dari catatan sejarah, bahwa nenek moyang bangsa Indonesia yang hidup di dalam zaman jahiliyah samasekali tidak memiliki pengetahuan tentang agama samawi .  Mereka memeluk kepercayaan yang dikenal dengan nama animisme dan dinamisme.Kemudian setelah berkuasanya raja-raja dan masuknya agama Budha dan Hindu mereka beralih memeluk agama tersebut sampai masuknya Islam ketanah air ini.
Semestinya dengan dijadikannya Islam sebagai agama tauhid yang mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala  maka segala bentuk kepercayaan dan keyakinan yang ada sebelumnya  baik kepercayaan animisme, dinamisme, Budha dan Hindu telah ditinggalkan, begitu pula segala bentuk tradisi yang bertentangan dengan tauhid.
Meskipun Islam telah dijadikan pegangan oleh sebagian terbesar oleh masyarakat dinegeri ini, namun sangat disayangkan ternyata dibanyak tempat oleh mereka-mereka baik yang hidup di daerah pesisir mapun pegungungan, baik yang tinggal dipelosok-pelosok sampai yang ada dikota-kota tradisi dan adat kepercayaan dari zaman jahiliyah ( animisme dan dinamisme) masih banyak yang mewarnai kehidupan keseharian mereka.
Betapa banyak diantara mereka-mereka yang melaksanakan syari’at islam dalam kesehari-hariannya seperti melakukan sholat 5 waktu, berpuasa dan syari’at lainnya yang diperintahkan Islam, tetapi disamping itu juga mereka masih akrab  dan aktif pula melakukan ritual-ritual tradisi warisan budaya dari nenek moyang yang sesungguhnya sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam.
Kepercayaan dan tradisi budaya warisan leluhur
Mempertahankan dan melestarikan kepercayaan nenek moyang dan leluhur yang hidup di abad-abad yang lampau  yang diwarisi secara turun temurun tersebut sepertinya sudah menjadi kebutuhan untuk dilakukan dalam kepentingan dan sarana meminta perlindungan dan pertolongan oleh sebagian kalangan kaum muslimin sebagaimana yang dulu dilakukan orang-orang jahiliyah yang aninisme.
Sesungguhnya banyak sekali ragam tradisi adat istiadat dan budaya yang diwarisi dari leluhur oleh berbagai ragam suku yang ada di negeri ini yang berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan adanya sesuatu kekuatan ghaib yang mengatur alam semesta ini. Mereka-mereka tersebut melakukan penyembahan-penyembahan  kepada para dewa-dewa, jin-jin, gunung, bebatuan, pepohonan dan apa saja yang sebenarnya termasuk makhluk yang diciptakan oleh Allah Yang Maha Pencipta. Mereka-mereka tersebut mencintai dan takut kepada apa yang disembahnya
Kepercayaan para leluhur dan nenek moyang diabat-abad lampau tersebut tidak saja terbatas kepada ruang lingkup penyembahan kepada makhluk selain Allah , tetapi sebenarnya lebih luas lagi yaitu kepercayaan kepada adanya roh-roh orang-orang sudah mati yang dapat dimintai pertolongan. Mereka juga sangat mempercayai kepada dukun-dukun dan tukang sihir, mempercayai keampuhan jimat-jimat, mempercayai adanya kesialan, mempercayai bahwa benda-benda mati mempunyai roh yang dapat mendatangkan kemudharatan dan kebaikan, melakukan penyembelihan hewan sebagai korban dan tumbal.
Kepercayaan kepada adanya kekuatan gaib selain Allah tersebut  diaplikasikan dengan melakukan berbagai ritual-ritual adat yang terkait dengan kepercayaan mereka seperti ritual tolak bala dan memberikan sesajen , tepung tawar dan banyak ritual-ritual lainnya lagi yang menunjukkan keterikatan mereka dengan roh-roh dan jin. Apa saja bagian dari kehidupan manusia sejak dari dalam kandungan hingga matinya tidak pernah lepas dari berbagai ritual yang sebenarnya bersumber dari kepercayaan yang berasal dari tradisi dan budaya nenek moyang yang jahilyah.
Cara penyembahan yang dilakukan oleh mereka-mereka tersebut adalah dengan memberikan sesajen serta tumbal pada tempat-tempat yang dianggap sebagai domisilinya roh-roh dan para jin serta yang mereka namakan dewa-dewa.Seperti di laut, sungai, danau, kolam, perigi atau selokan-selokan ). Ada pula yang menggantungkan sesajen di pohon-pohon besar yang diyakini ada jin atau makhluk halus  penunggu pohon-pohon tersebut.
Adapula yang percaya kepada kekuatan magis benda-benda pusaka seperti keris, tombak, gamelan dll , yang untuk itu pada waktu-waktu tertentu diadakan ritual penghormatan dengan memandikannya secara khusus, dapada malam-malam tertentu diberikan bunga-2an dan dupa. Ritual dan penghormatan tsb dilakukan agar sipemilik senjata pusaka terhindar dari malapetaka yang diakibatkan kekuatan magis atau roh yang ada di benda-benda pusaka tersebut.
Kepercayaan para leluhur atau nenek moyang yang digambarkan diatas selanjutnya terus diwarisi secara turun temurun dari generasi kegenerasi berikutnya sampai kepada generasi sekarang dengan nama tradisi adat dan budaya leluhur..
Berbagai perilaku yang menunjukkan bahwa terus dipertahankannya tradisi adat dan budaya berupa kepercayaan kepada selain Allah yang dilakukan oleh sebagian kalangan kaum muslimin dinegeri ini antara lain:
1.Diselenggarakannya berbagai pesta adat budaya yang bentuknya memberikan sesembahan beruapa sesajen dan tumbal seperti pada pesta laut, pesta sedekah bumi, pemberian sesajen dan tumbal pada kawah-kawah gunung, menggantungkan sesajen pada pohon-pohon besar seperti pada pohon beringin.
2. Dalam melakukan berbagai hajatan yang dilakukan oleh perorangan seperti pesta perkawinan sampai kepada hajatan yang berkenaan dengan kelahiran atau yang lainnya biasanya dilakukan pula berbagai ritual yang tidak ketinggalan menyediakan sesajen.
 3. Melakukan penyembelihan hewan ternak untuk tumbal sebagai bentuk pengorbanan kepada makhluk yang dikuatirkan akan menimbulan bencana dan malapetaka .Tumbal diberikan-biasanya pada acara-acara peresmian pembangunan proyek-proyek jembatan, bendungan, jalan, pabrik dan pembukaan tambang-tambang baru.
3.Mendatangi kuburan-kuburan dan tempat tempat keramat dengan membawa bunga-bungaan  lalu berdoa menyampaikan berbagai hajat .
4.Bernazar di kuburan-kuburan dan tempat-tempat yang dianggap berkeramat.
5.Mendatangi dan mempercayai dukun,para normal, orang-orang pintar serta tukang sihir untuk keperluan pengobatan dan keperluan lainnya seperti memasang susuk, penglaris, guna-guna, tahan terhadap senjata , ramalan dan lain-lain  sebagainya.
6.Mempercayai jimat sebagai pelindung diri dan jimat yang memiliki kemampuan yang bertuah.
7.Mempercayai adanya hari, tanggal dan bulan yang mengandung kesialan seperti hari dan tanggal kelahiran, bulan suro.
8.Mempercayai akan datangnya kesialan dari tanda-tanda seperti suara burung, adanya ular yang melintas yang di dalam Islam disebut sebagi tathoyur.
9.Melakukan ritual-ritual tolak bala dengan tepung tawar pada berbagai upacara. Melakukan ruwatan, menyiramkan air kembang yang sudah diberikan doa pada kendaraan agar terhindar dari kecelakaan
10.Menyediakan nasi tumpeng dalam berbagai ragam kegiatan seperti ulang tahun sebagai bentuk wujud rasa syukur kepada sang pencipta ( ?) pada hal nasi tumpeng bagian dari kepercayaan leluhur.
Sebenarnya banyak lagi ragam bentuk perbuatan yang di akrabi oleh sebagian orang di negeri ini yang merupakan kepercayaan warisan dari leluhur yang dianggap sebagai tradisi adat dan budaya,namun bukan pada tempatnya untuk membahas masalah tersebut  secara terperinci.
Tradisi dan budaya nenek moyang yang syirik
Mengapa kebanyakan tradisi dan budaya nenek moyang yang melakukan ritual-ritual sebagaimana yang digambarkan diatas dipandang dari kacamata tauhid disebut syirik dan sangat dilarang untuk dilakukan oleh setiap muslim. Hal ini disebabkan bahwa semua ritual ritual seperti  memberikan sesajen dan melakukan penyembelihan untuk keperluan ritual adat tidak lain adalah bentuk kepercayaan adanya kekuatan yang ditakuti dan disegani seperti jin  sehingga diberikan sesembahan agar jin tersebut tidak membuat mudharat serta memberikan manfaat kepada mereka. Mereka-mereka yang melakukan ritual semacam itu dapat dipastikan mempunyai motip agar mereka mendapatkan perlindungan dari marabahaya, terhindar dari gangguan dan kemarahan makhluk gaib atau jin atau agar dapat memberikan pertolongan dll sebagainya.Perilaku seperti ini sama saja artinya mereka-mereka tersebut meyakini dan mempercayai  bahwa selain Allah ada pula sesuatu kekuatan lain yang sama kedudukannya dengan Allah Subhana wa ta’ala . Padahal  sesungguhnya hanya Allah yang Maha Kuasa yang dapat memberikan perlindungan dan pertolongan.
Di dalam syari’at islam telah digariskan bahwa seseorang yang menyamakan kedudukan selain Allah sama dengan kedudukan Allah Subhana wa ta’ala berarti telah mensekutukan Allah Yang Maha Esa  atau berbuat syirik. Meskipun mereka tidak langsung menyebutkannya atau tidak langsung melakukan penyembahan, namun perilaku mereka jelas-jelas menunjukkan bahwa mereka menyekutukan Allah Subhana wa ta’ala.
Menurut  Al-Qur'anul Karim bahwa umat islam wajib untuk mengimani tauhid atau ke Esaan Allah Ta’ala, yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah dan tauhid Asma wal sifat.

Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyah adalah mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam segala perbuatanNya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. . Tauhid ini meliputi kepercayaan bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh alam semesta ini termasuk jin dan manusia. Hanya  Allah lah yang menghidupkan dan  mematikan, Hanya Allah lah yang mengatur seluruh alam semesta ini, hana Allah yang mengatur siang dan malam, hanya  Allah lah yang memelihara alam semesta ini, hanya Allah lah yang memberikan pertolongan dan perlindungan, hanya Allah lah yang memberikan rezeki, hanyalah Allah lah yang dapat memberikan/mendatangkan  kebaikan dan kemaslahatan dan hanya Allah lah yang dapat memberikan/mendatangkan kemudharatan.

Mengenai tauhid rububiyah/penciptaan  ini sesuai dengan firman Allah ta’ala dalam surah  AzZumar (39) ayat 62:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.

Dalam surah Huud ayat 6 Allah ta’ala berfirman :

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya [Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Selanjutnya dalam al-Qur’an surah Ali Imran (3) ayat 26 Allah ta’ala berfirman :

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu

Begitu pula dalam al-qur’an surah Ali Imran ayat 27 disebutkan firman Allah

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي الْنَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الَمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup [191]. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".

Allah subhana wa ta’ala sangat tidak menyukai  dan Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surah Luqman ayat 11 :

هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya orang- orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.

Tradisi warisan leluhur bukan bagian dari syari’at  Islam

Islam adalah agama tauhid yang mengesakan Allah, islam hanya mengakui Allah sebagai yang maha esa dan tidak ada sekutu baginya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. [رواه الترمذي ومسلم ]

Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khathab"Islam didirikan diatas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitullah dan berpuasa pada bulan ramadhan".( Arba’in Imam An-Nawawi)

Al-Qur’an surah  Al Baqarah (2) ayat 132 menyebutkan :

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

Dalam al-Qur’an surah Ali Imran (3)Ayat  102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Islam itu memiliki aturan yang sangat sempurna, yaitu al-Quran dan as-sunnah  kemudian memerintahkan umatnya dalam melaksanakan syari’atnya wajib berpegang kepada keduanya. Sebagaimana yang di firmankan Allah ta’ala dalam al-Qur’an surah Al Jaatsiyah (45) ayat 20a;

هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمِ يُوقِنُونَ

Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

Kemudian dalam surah  Luqman (31 )ayat 3- disebutkan
هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ
menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,

Dalam kitab Bulughul Maram Ibnu Hajar Al-Ashqolani-Kitab Jami'disebutkan
dari Tamim al-Daary Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Agama adalah petunjuk (bagi manusia)" -Beliau mengulangi tiga kali-. Kami bertanya: Untuk siapa wahai Rasulullah?. Beliau bersabda: "(Petunjuk manusia) untuk berbuat baik kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada umat islam pada umumnya."
Riwayat Muslim.
Islam itu secara lengkap sudah mengatur tentang tata cara peribatan dan menolak cata peribatan selain yang telah digariskan karena islam sudah sempurna sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surah al-Maidah ( 5 ) ayat 3 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya [dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Karenanya mengingat tradisi budaya warisan leluhur dengan berbagai macam perilaku nya tersebut tidak bersesuaian dan tidak sejalan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah , maka ia harus ditolak dan dijauhi oleh segenap umat muslim. Tradisi budata warisan leluhur bukan bagian dari syari’ai islam sehingga tidak layak untuk dilestarikan.

Wajib bagi segenap anak manusia yang telah  mengikrarkan kesaksiannya tentang ke maha  Esaan Allah  untuk hidup dan mati dalam islam sesuai firman Allah ta’ala dalam al-Qur’an surah Al Baqarah (2) ayat 132:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

Berikut ini beberapa firman Allah  berkaitan dengan tauhid
1. Surah  Az Zukhruf (43)  Ayat 28- :
وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
\
Dan (lbrahim a. s.) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu

Maksudnya: Nabi Ibrahim  menjadikan kalimat tauhid sebagai pegangan bagi keturunannya sehingga kalau terdapat di antara mereka yang mempersekutukan Tuhan agar mereka kembali kepada Tauhid itu.

2.Surah Al Anbiyaa' (21) ayat 92-
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Ak

3. Surah Al Mu'minuun (23) ayat 52 :

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.

Melakukan ritual tradisi budaya leluhur dengan mengharapkan perlindungan dan pertolongan adalah perbuatan yang tersesat ,padalah Allah telah menunjukkan jalan yang benar dengan bertauhid/mengesakan Allah sebagaimana yang difirman Allah dalam surah  Al Baqarah (2) ayat 256 :

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah ta’ala telah menyeru seluruh hambanya  kejalan tauhid  sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an surah  Yunus (10) ayat 25 “
وَاللّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلاَمِ وَيَهْدِي مَن يَشَاء إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
685

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) [685].

Dalam surah  Al Anfaal (8) ayat 8 Allah ta’ala berfirman :

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ
agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya

Allah ta’ala berfirman dalam surah Ali Imran (3) ayat 85:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak- lah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Akhirnya kepada segenap umat islam umumnya dan khususnya kepada mereka-mereka  terbiasa melakukan ritual-ritual tradisi budaya warisan leluhur untuk segera meninggalkan kebiasaan tersebut dan selanjutnya bertaubat  karena telah berbuat kesyirikan kepada Allah. Bertauhidlah secara benar, jangan dicampur adukkan dengan ritual tradisi budaya warisan leluhur.Wallaahu ta’ala  ‘alam

Loabakung,   12 Syawal 1437 Hijriah
Farabi al-Banjari

Sumber : 1. Al-Qur’an dan Terjemahan , www.Salafi DB.4.0

                2. Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam, www.Lidwapusaka

Kamis, 21 Juli 2016

SISI-SISI BURUK /NEGATIF DUNIA MAYA DIPANDANG DARI KACAMATA AGAMA ( BAG.KESEPULUH )

Maraknya berbagai Penipuan

Dunia maya / internet banyak dipenuhi berbagai bentuk penipuan yang dilakukan oleh mereka mereka yang tidak bertanggung . Ada yang melakukannya dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan disegi ekonomi dengan menawarkan berbagai  produk  sebagai barang dagangan melalui online namun ternyata fiktip dimana pesanan tidak pernah dipenuhi meskipun uang pembayaran sudah masuk kedalam rekeningnya. Adapula barang yang dikirimkan tidak sesuai dengan pesanan. Melalui dunia maya  banyak pula penipuan berupa undian berhadiah. Selain itu adapula penipuan –penipuan yang bermotif non ekonomi, sebagai contoh melalui facebook mengajak berteman kemudian mengajak  bertemu namun ujung-ujungnya menimbulkan masalah. Pendek kata berbagai modus operandi penipuan dilakukan oleh sebagian orang terhadap yang lainnya dengan menggunakan sarana dunia maya karena dengan menggunakan fasilitas di dunia  maya sangat memudahkan mereka melakukan aksinya yang tidak dapat ditoleran.
Islam mengharamkan semua bentuk penipuan karenanya seluruh umatnya dilarang untuk melakukan penipun dalam bentuk apapun juga.
Hadits Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam shahihnya menyebutkan :

صحيح مسلم ١٤٦: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيُّ ح و حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ مُحَمَّدُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي حَازِمٍ كِلَاهُمَا عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
Shahih Muslim 146: Telah menceritakan kepada kami Qutabiah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Ya'qub -yaitu Ibnu Abdurrahman al-Qari-. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash Muhammad bin Hayyan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Hazim keduanya dari Suhail bin Abu Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa membawa pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami. Dan barangsiapa menipu kami, maka dia bukan golongan kami."

Terkait dengan penipuan jual beli secara online juga merupakan bagian dari penipuan dalam dunia jual beli , dalam hadits riwayat imam Bukhari sebagai berikut :

صحيح البخاري ٦٤٤٨: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ النَّجْشِ

Shahih Bukhari 6448: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dari Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam melarang (jual beli) najasy (penipuan).

Dalam hadits lain yang diririwayatkan imam Abu Daud dalam sunannya disebutkan :

سنن أبي داوود ٢٩٩٥: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِرَجُلٍ يَبِيعُ طَعَامًا فَسَأَلَهُ كَيْفَ تَبِيعُ فَأَخْبَرَهُ فَأُوحِيَ إِلَيْهِ أَنْ أَدْخِلْ يَدَكَ فِيهِ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهِ فَإِذَا هُوَ مَبْلُولٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ غَشَّ
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ عَنْ عَلِيٍّ عَنْ يَحْيَى قَالَ كَانَ سُفْيَانُ يَكْرَهُ هَذَا التَّفْسِيرَ لَيْسَ مِنَّا لَيْسَ مِثْلَنَا

Sunan Abu Daud 2995: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah, dari Al 'Ala` dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati seorang laki-laki yang menjual  makanan, kemudian ia bertanya kepadanya; bagaimana engkau berjualan? Kemudian orang tersebut memberitahukan kepada beliau bagaimana ia berjualan. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diberi wahyu; masukkan tanganmu ke dalam makanan tersebut! Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, dan ternyata makanan tersebut basah. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukan dari golongan kami orang yang menipu."

Menasehati sesama muslim merupakan kewajiban setiap muslim, bahkan dia merupakan salah satu dari tiang penyangga tegaknya agama ini. Karenanya termasuk kesalahan besar jika seorang muslim menipu atau mencurangi saudaranya sesama muslim. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ‘bukan golonganku’ ‘bukan golongan kami’, menunjukkan bahwa penipuan dan kecurangan merupakan dosa yang sangat besar dan bukan merupakan dosa yang kecil. Penipuan dan kecurangan juga termasuk kezhaliman, dan sudah jelas hukuman Allah kepada setiap pelaku kezhaliman di muka bumi ini
.
Karenanya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengharamkan dengan tegas semua bentuk penipuan dan kecurangan dalam hal apapun dan dalam keadaan bagaimanapun.
Sehubungan dengan itu maka kita perlu berhati-hati terhadap dunia maya karena kemungkinan adanya upaya-upaya penipuan yang dilakukan orang terhadap kita , janganlah sampai diantara kita ada yang menjadi korban penipuan oleh mereka-mereka yang tidak bertanggung  jawab yang kemungkinan akan menimbulkan kerugian baik material termasuk kerugian nor material.Berhati-hatilah jangan sampai terbujuk oleh rayuan para penipu. Wallaahu ta’ala ‘alam.

Samarinda , Kota Tepian, 9 Syawal 1437 H

By : Abu Farabi al-Banjari

S u m b e r :

1.     Al-Qur’an dan Terjemahan, www.Salafy.Db.4.o

2.     Ensiklopedi Kitab Hadits 9 imam, www. Lidwapusaka 

Kamis, 14 Juli 2016

KEMATIAN SEBUAH KEPASTIAN

Seterang apapun matahari rembang petang akan menjemput ,perlahan dia meredup dan diujung senja menjadi padam
Begitulah  pula sebuah kehidupan niscaya ajal akan menjemput
Kematian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap anak manusia

.Wajibnya mengimani kematian

Setiap anak manusia wajib beriman kepada kematian sebagai sebuah ketentuan yang telah digariskan dalam takdir oleh Allah ta’ala. Akan hal ini disebutkan dalam hadits Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi:

سنن الترمذي ٢٠٧١: حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ أَنْبَأَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِأَرْبَعٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ بَعَثَنِي بِالْحَقِّ وَيُؤْمِنُ بِالْمَوْتِ وَبِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَيُؤْمِنُ بِالْقَدَرِ
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ عَنْ شُعْبَةَ نَحْوَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ رِبْعِيٌّ عَنْ رَجُلٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي دَاوُدَ عَنْ شُعْبَةَ عِنْدِي أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ النَّضْرِ وَهَكَذَا رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيٍّ عَنْ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا الْجَارُودُ قَال سَمِعْتُ وَكِيعًا يَقُولُ بَلَغَنَا أَنَّ رِبْعِيًّا لَمْ يَكْذِبْ فِي الْإِسْلَامِ كِذْبَةً

Sunan Tirmidzi 2071: dari 'Ali dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah beriman seorang hamba sehingga dia mengimani empat hal; Bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan aku adalah Muhammad utusan Allah yang Dia utus dengan membawa Al Haq (kebenaran), beriman kepada adanya kematian, beriman kepada adanya hari kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada taqdir

Setiap makhluk bernyawa niscaya merasakan kematian

Allah ta’ala berfirman dalam al-qur’an yang tercantum dalam beberapa surah antara lain :
1. surah Al 'Ankabuut (29)\Ayat  57-

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya :Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

2.Surah Al Anbiyaa' (21)ayat 35-

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya :Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

3. Surah.Az-Zumar (39)ayat 30-

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).

Allah ta’ala yang menghidupkan dan yang  mematikan

Allah yang Maha Pencipta sesungguhnya berkuasa untuk menghidupkan dan kemudian berkuasa pula untuk mematikan setiap makhluk yang bernyawa, sebagaimana  yang difirmankannya dalam al-Qur’an  Ad Dukhaan (44)
Ayat  8-:

لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu.

Selain itu banyak pula ayat-ayat dalam al-Quran yang membicarakan tentang berkuasanya Allah ta’ala menghidupkan dan memataika  seperti yang tercantum dalam surah Al Mulk (67)Ayat  2 :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

Selanjutnya dalam al-qur’an Al Hadiid (57)Ayat 2 disebutkan :

لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Begitu pula  dalam surah At Taubah (9)Ayat  116  Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ اللّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ يُحْيِـي وَيُمِيتُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah.

Surah Yunus (10) ayat 56 menyebutkan :

هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Demikian pula dalam al-Qur’an surah Al Mu'minuun (23)
Ayat  80 Allah ta’ala berfirman :

وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?.

Sedangkan dalam al-Qur’an  surah Al Mu'min (40)
Ayat  68:
هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ فَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.

Kematian tidak dapat ditolak/dihindari manusia

Sesungguhnya kematian bagi setiap makhluk bernyawa merupakan kepastian yang tidak dapat ditolak dan dihindari. Kematian tidak mengenal batas umur, bayikah, balita, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan lansia kah apabila telah sampai batas umur yang digariskan oleh Allah yang Maha Pencipta. Kematian tidak pernah mengenal dan pilih bulu, perempuankah, laki-laki kah, rakyat jelata ataukah pejabat, simiskinkah atau sikayakah, semuanya akan merasakannya.
Kematian bagi setiap insan telah ditentukan oleh yang menciptakan manusia, karena hanya Allah lah yang berkuasa untuk itu. Allah ta’ala telah berfirman dalam al-Qur’an surah Al Waaqi'ah (56) Ayat  60

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan.

Meskipun manusia mencoba untuk menghindarkan dari kematian, namun karena takdir Alla ta’ala telah mendahuinya maka kemanapun manusia menjauhi kematian itu niscaya akan menemuinya, mengingat kematian itu adalah sebuah kepastian yang siapapun tidak dapat lari dari nya. Dalam surah Al Jumuah (62) ayat  8 disebutkan firman Allah ta’ala :

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".

Ketahuilah bahwasanya manusia itu tidak akan dapat lari dari kematian dan niscaya setiap orang akan menemuinya tanpa diketahui terlebih dahulu.  Karena  dengan kematian itu manusia dikembalikan kepada Allah. Dalam surahAl Jumuah (62) ayat 8 Allah ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan

Begitu pula dalam al-Qur’an Qaaf (50) ayat 19:
وَجَاءتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya

Kematian akan mendatangi manusia dibumi manapun dia berada

Dimana saja manusia berada, ajal tidak pernah mengenal tempat dan kematian akan mendatangi setiap orang meskipun bersembunyi disuatu tempat . Hal ini digariskan dalam firman Allah ta’ala di surahAn Nisaa (4) ayat 78 :

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِ اللّهِ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِكَ قُلْ كُلًّ مِّنْ عِندِ اللّهِ فَمَا لِهَـؤُلاء الْقَوْمِ لاَ يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan mereka mengatakan : "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan : "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah : "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun ?

Keterbataan pengetahuan dan ketidak tahuan manusia tidak saja tentang kapan waktunya ajal datang menjemput, manusia juga tidak mempunyai pengetahuan dan dapat mempredeksi dimana yang bersangkutan  mendapatkan kematiannya. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an surah
Luqman (31) ayat 34

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok .Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Kematian tidak dapat ditunda-tunda

Kematian bagi setiap insan telah digariskan dalam takdir Allah ta’ala pertama saat manusia masih berbentuk janin dalam rahim ibunya. Sehingga bila sudah tiba jadwalnya sesuai dengan catatan yang ada dalam perbendaharaan Allah ta’ala, tidaklah  kematian itu dapat tertunda walaupun dalam hitungan per sekian detik.  Dalam al-Qur’an surah Al Munaafiqu (63) ayat 11:

وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.

Berkaitan dengan itu maka setiap hamba Allah tidaklah dapat mengusahkan untuk menunda-nunda tibanya kematian dengan dalih atau alasan apapun , misalnya seperti belum siap untuk mati dll sebagainya. Setiap orang apabila sudah sampai pada batas umur yang digariskan baik ia masih bayi, balita, anak-anak, remaja, anak-2 muda, setengah dewasa, dewasa, lansia, mau atau tidak  mau niscaya mati dan harus menerima kepastian itu.

Kematian tidak dapat diminta

Kematian sebagai sebuah ketetapan tidak dapat diminta untuk dapat diajukan karena kematian itu adalah rahasia dan haknya Allah  dan hanya Allah ta’ala yang mengetahuinya.
Seseorang hamba dilarang untuk meminta agar dapat dimatikan sedangkan disisi lain Allah ta’ala telah menetapkan jadwal akan kematian itu mendatangani seseorang, jadwal kematian yang hanya Allah maha mengetahuinya. Tentang larangan meminta kematian tersebut ditegaskan dalam hadits Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh imam Muslim :

صحيح مسلم ٤٨٤٣: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا

Shahih Muslim 4843: telah diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, -lalu dia menyebutkan beberapa Hadits di antaranya; - "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah meminta mati sebelum datang waktunya. Karena orang yang mati itu amalnya akan terputus, sedangkan umur seorang mukmin tidak akan bertambah melainkan menambah kebaikan.'"

Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh imam Bukhari  dalam shahihnya sbb :

صحيح البخاري ٥٢٣٩: حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Shahih Bukhari 5239: dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya, kalau memang hal itu harus, hendaknya ia mengatakan; Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku, dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku."

Begitu pula Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh imam Bukhari melarang seseorang untuk berangan-angan mati karena musibah yang dialaminya :

صحيح البخاري ٥٨٧٤: حَدَّثَنَا ابْنُ سَلَامٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Shahih Bukhari 5874: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Salam telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin 'Ulayyah dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian berangan-angan untuk mati karena musibah yang menimpanya, kalau memang hal itu harus, hendaknya ia mengatakan; "Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku, dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku."

Mengingat kematian

Sebagai hamba Allah yang hidup matinya tergantung kepada bagaimana kehendak Allah ta’ala diperintahkan untuk ingat kepada kematian, agar sejak dini dapat mempersiapkan diri menghadapi kematian  yang pasti akan menemuinya. Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi dalam sunannya sbb :

سنن الترمذي ٢٢٢٩: حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

Sunan Tirmidzi 2229: Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Al Fadl bin Musa dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian"Berkata Abu Isa: Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Sa'id. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih gharib.

Begitu pula Ibnu Majah dalam sunannya juga meriwayatkan hadits :

سنن ابن ماجه ٤٢٤٨: حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

Sunan Ibnu Majah 4248: Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Al Fadl bin Musa dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perbanyaklah mengingat sesuatu yang dapat menghancurkan kenikmatan, yaitu kematian."

Orang  yang paling  banyak mengingat kematian  oleh Rasullullah shallalahu alaihi wa sallam disebutkan sebagai  mukmin yang utama, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan  oleh imam Ibnu Majah ;

سنن ابن ماجه ٤٢٤٩: حَدَّثَنَا الزُّبَيْرُ بْنُ بَكَّارٍ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ فَرْوَةَ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ
كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
Sunan Ibnu Majah 4249: dari Ibnu Umar bahwa dia berkata; Saya bersama dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar kepada beliau, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya; "Ya Rasulullah, bagaimanakah orang mukmin yang utama?" beliau menjawab: "Orang yang paling baik akhlaknya." Dia bertanya lagi; "Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling bijak?" beliau menjawab: "Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah orang-orang yang bijak."

Mempersiapkan diri dengan melakukan berbagai amal kebaikan adalah salah satu langkah untuk mengingat kepada kematian yang datang secara tiba-tiba, hal ini ditegaskan dalam  hadits yang diriwayatkan imam at-Tirmidzi :

سنن الترمذي ٢٢٢٨: حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ عَنْ مُحْرِزِ بْنِ هَارُونَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا أَوْ غِنًى مُطْغِيًا أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا أَوْ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ أَوْ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ
قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ مُحْرِزِ بْنِ هَارُونَ وَقَدْ رَوَى بِشْرُ بْنُ عُمَرَ وَغَيْرُهُ عَنْ مُحْرِزِ بْنِ هَارُونَ هَذَا وَقَدْ رَوَى مَعْمَرٌ هَذَا الْحَدِيثَ عَمَّنْ سَمِعَ سَعِيدًا الْمَقْبُرِيَّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَقَالَ تَنْتَظِرُونَ

Sunan Tirmidzi 2228: Telah menceritakan kepada kami Abu Mush'ab dari Muhriz bin Harun dari Abdurrahman Al A'raj dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Segeralah beramal (sebelum kedatangan tujuh hal, tidaklah kalian menunggu selain kefakiran yang membuat lupa, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang merusak, masa tua yang menguruskan, kematian yang menyergap tiba-tiba, Dajjal, seburuk-buruk hal gaib yang dinanti-nanti, kiamat dan kiamat itu sangat membawa petaka dan sangat pahit." Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahui hadits Al A'raj dari Abu Hurairah kecuali dari hadits Muhriz bin Harun.

Dengan mengingat kematian maka sebagai seorang muslim akan terpacu melakukan keta’atan kepada Allah ta’ala dengan  melakukan berbagai amal ibadah dan kebajikan sesuai yang disyari’atkan menurut al-Qur’an dan as-sunnah. Dengan mengingat akan datangnya kematian yang tidak diketahui kapan waktunya maka seorang muslim akan menjauhi dan meninggalkan berbagai kemaksiatan , meninggalkan berbagai bentuk perbuatan yang berbuah dosa. Dengan mengingat akan kematian maka seorang muslim senantiasa selalu meminta ampun ( beristigfar ) dan bertaubat dari segala bentuk kemaksiatan atau kemunkaran yang mungkin pernah dilakukannya. Wallaahu  ta’ala ‘alam

Ujung kota tepian mahakam, 9 Syawal 1437 H

O l e h  : Abu Farabi al-Banjari

Sumber 
:
1.Al-Qur’an dan terjemahan, Salafi.DB. 4.0
2.Ensiklopedi kitab hadits 9 imam, Lidwa Pusaka